Ongky Hojanto – Motivator, Pembicara, Coach, Motivator Indonesia, Public Speaking, NLP,

Kapan Saja Metode Bercerita digunakan?

“Marketing is no longer about the stuff you make, but about the stories you tell.” -Seth Godin

Cerita adalah bagaimana manusia memaknai dunia. Cerita lebih melekat pada pendengar daripada fakta. Ketika audiens mendengar sebuah cerita, maka bukan hanya pikiran tapi juga emosi ikut terlibat. Cerita melengkapi argumen logis dengan menarik emosi. Pada akhirnya, cerita menginspirasi pendengarnya untuk bertindak.

Berikut adalah waktu-waktu yang tepat bagi pembicara untuk menerapkan metode bercerita saat berpidato atau presentasi.

1. Presentasi Formal

Tidak peduli berapa banyak audiens Anda, mereka hanya akan fokus pada Anda. Entah Anda menggunakan slide atau tidak, berdiri atau duduk. Terlepas dari itu, Anda memiliki sesuatu yang penting untuk dikomunikasikan.

Saat Anda menyusun konten, pikirkan tentang audiens. Dimana mereka saat ini? Bagaimana cara mereka berpikir, merasa, dan bertindak tentang topik Anda? Bagaimana Anda ingin mereka berpikir, merasa dan bertindak? Ide apa yang Anda tawarkan untuk membantu mereka?

Anda dapat memasukkan hasil survei, kutipan, bagan, grafik, pernyataan, dan metafora untuk membangun sebuah cerita. Tujuan utamanya adalah agar audiens terlibat dan ide Anda dapat diterima oleh audiens.

Baca juga : 6 Langkah menjadi pendengar yang aktif

2. Memasarkan atau Berjualan produk

Menjual adalah proses persuasi, yang artinya membuat pelanggan atau klien dari tidak membeli ke (pada akhirnya) membeli. Penjual yang hebat adalah pendongeng yang hebat. Mereka memahami kekuatan cerita dan memanfaatkannya untuk memberi gambaran pada pelanggan tentang bagaimana produk atau layanan mereka memberikan solusi.

Karena memasarkan produk lebih seperti mengobrol daripada presentasi formal, maka cerita bisa melengkapi promosi Anda dengan menghidupkan produk atau layanan Anda. Cerita menerjemahkan konsep menjadi kenyataan. Saat Anda memberi tahu pelanggan atau klien kisah mereka sendiri, Anda membantu mereka melihat apa yang mereka alami saat ini.

Tapi penting juga untuk mengarahkan percakapan dengan membingkai pengalaman pelanggan saat ini sebagai sebuah cerita. Anda dapat mengartikulasikan kepada pelanggan apa tujuan mereka dan apa hambatannya. Lalu Anda dapat menjelaskan bagaimana cerita mereka akan berubah jika mereka membuat keputusan yang berbeda.

3. Satu Lawan Satu

Ketika Anda berada dalam posisi bertatap muka langsung dengan client atau audiens Anda, Anda dapat menceritakan kisah Anda yang menunjukkan adanya tujuan yang ingin dicapai, namun harus muncul rintangan selama melakukannya, dan akhirnya menemukan jalan untuk berhasil.

Bercerita yang efektif adalah ketika Anda mampu membingkai pengalaman, dengan struktur cerita yang sederhana dan komunikasikan apa yang Anda inginkan, apa yang Anda hadapi, dan bagaimana Anda mengatasinya sehingga pendengar Anda dapat lebih memahami pengalaman Anda.

Intinya, sebuah cerita haruslah meyakinkan. Maka persiapkan dengan matang tentang apa yang dapat Anda ceritakan. Jika Anda menceritakannya dengan baik, pendengar Anda tertarik dan berujung pada kesuksesan Anda dalam membujuk mereka.

Semoga bermanfaat!

Translator : PL

Untuk menanyakan mengenai Training Public Speaking silahkan hubungi Ms. Cheristine 0811 3440 909

https://www.duarte.com/presentation-skills-resources/3-situations-that-demand-a-story/

Share on linkedin
LinkedIn
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Latest Post

Get My Books

Best seller books
0
Silahkan berikan komentar Andax
()
x