Pages Menu
Categories Menu

Posted by on Apr 19, 2020 in Articles | 0 comments

Kegagalan Agus, Ahok dan Anies dalam pemaparan Visi Misi

Motivator | Pemaparan visi dan misi dari para kandidat Gubernur DKI, jumat 13 januari 2017, menarik perhatian dari berbagai kalangan masyarakat di Indonesia. Hal ini bisa di maklumi karena Jakarta adalah jendela Indonesia.

Berdasarkan pemaparan para kandidat Gubernur, maka saya memberikan beberapa catatan sehubungan dengan teknik presentasi dan isi presentasi dari para kandidat

  1. Pasangan No 1

AHY memulai pemaparan visi dengan menyebutkan tiga hal : ketimpangan yang meningkat, daya beli yang menurun dan kualitas hidup yang menurun disebabkan karena macet, banjir dan sampah

Visi : Maju aman adil dan sejahtera

Misi : Atasi semua Masalah dan tingkatkan pembangunan

Kelemahan pertama dari penyampaian Agus adalah tidak adanya logos atau data sebagai sumber referensi pendukung poin yang ia sampaikan. Jika AHY mengatakan bahwa ketimpangan meningkat dan daya beli menurun, maka alangkah baiknya memberikan data yang akurat dari poin yang disampaikan.

Kedua, tidak adanya integrasi antara Visi dan Misi. Seharusnya Misi adalah rencana tindakan mencapai visi yang di buat.

Ketiga adalah misi yang terlalu luas yakni akan mengatasi semua masalah di Jakarta. Bagi masyarakat Jakarta yang merupakan pemilih yang cerdas hal ini kelihatan menjadi tidak masuk akal

  1. Pasangan no 2

BTP memaparkan Visi paslon no 2 adalah membangun manusia dengan indicator yang terukur IPM (indeks pembangunan Manusia) 2015 78,99 dan akan di tingkatkan menjadi 8,0 sehingga sejajar dengan Negara-negara maju

Misi : Birokrasi yang melayani, transparan dan professional

Hal yang menarik dari visi calon no 2 adalah kejelasan visinya dan integtasi antara visi dan misi

Sementara untuk kelemahan dari pemaparan Calon no 2 adalah terjebak dalam “curcol” mengenai kesalah pahaman masyarakat terhadap dirinya

Kelemahan kedua adalah calon no dua tidak menceritakan presentasi yang di lakkukan secara detail, serta seharusnya memberikan gambaran menganai komponen penyusun IPM yang bagi sebagian masyarakat mungkin membingungkan

  1. Pasangan no 3

AB mengawali dengan mengatakan memiliki pengalaman, pengetahuan dan akumulasi jaringan.

Visi : Kesejahteraan dan Keadilan

Kelemahan utama dari calon no 3 adalah tidak berhasil menemukan strong poin dalam dirinya serta diri wakilnya untuk kemudian di pakai dalam menjabarkan visi dan misi

Kesalahan pertama adalah menganggap diri seorang yang berpengalaman dalam mengelolah pemerintahan, dimana calon no 3 serta wakilnya tidak memiliki pengalaman dalam hal tersebut

Kedua melontarkan isu yang kecil, seperti “mengantarkan anak kesekolah” alangkah menariknya jika calon no 3 mengatakan “orang tua akan kami bantu  untuk mengantarkan anak mereka hingga paska sarjana”

Kekuataan utama wakil calon gubernur no 3 sepertinya terbenam. Andai kata dalam visi dan misi juga di tekankan bahwa kami berpengalaman dalam melahirkan pengusaha – pengusaha muda. ini akan menjadi menarik

Ketiga melemparkan isu yang kontra dengan fakta yang beredar di masyarakat, yakni mengatasi narkoba dan seolah ini menjadi misi utama     calon no 3 padalah dalam beberapa informasi di ketahui bahwa calon 3 pernah tidak melaksanakan usulan pimpinan BNN untuk memasukan bahaya narkoba dalam kurikulum sekolah, saat beliau masih menjadi meteri pendidikan. Penekanan paslon no 3 dalam memberantas narkoba membuat beliau seperti menempatkan diri seperti calon kepala BNN dan bukannya calon Gubernur DKI

Training Sales | Training Motivasi

Demikian dari saya Ongky Hojanto
Pakar Public Speaking Indonesia versi Koran Kontan
Penulis buku best seller Public Speaking Mastery

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *