5 Langkah Membangun Keterampilan Coaching yang Berdampak pada Bisnis
Motivator Indonesia | Public Speaking Indonesia | Motivator
“Coaching is unlocking people’s potential to maximize their own performance.” — John Whitmore
Coaching di tempat kerja bukan sekadar percakapan antara atasan dan karyawan. Jika dilakukan dengan tepat, coaching dapat menjadi bagian dari strategi pengembangan karyawan yang mendukung peningkatan kinerja dan pencapaian tujuan bisnis. Namun, kemampuan coaching tidak otomatis muncul hanya karena seseorang memiliki posisi sebagai atasan. Dibutuhkan keterampilan untuk mendengarkan, bertanya, memberikan feedback, dan membantu karyawan menemukan solusi.
Berikut lima langkah yang dapat dilakukan untuk membangun keterampilan coaching yang lebih efektif.
1. Mulai dengan Kemampuan Mendengarkan
Coaching yang baik dimulai dengan mendengarkan, bukan langsung memberikan solusi. Coach perlu memahami apa yang sedang dihadapi karyawan, apa yang menjadi hambatan, serta bagaimana karyawan melihat situasi tersebut. Mendengarkan secara aktif membantu percakapan menjadi lebih terbuka dan memungkinkan masalah yang sebenarnya muncul ke permukaan.
2. Ajukan Pertanyaan yang Mengarahkan pada Refleksi
Pertanyaan yang tepat dapat membantu karyawan melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda. Alih-alih langsung mengatakan apa yang harus dilakukan, coach dapat bertanya:
“Menurut Anda, apa yang menjadi penyebab utama masalah ini?”
atau
“Apa pilihan yang bisa Anda lakukan untuk mengatasinya?”
Pertanyaan seperti ini mendorong karyawan untuk berpikir, mengevaluasi, dan ikut bertanggung jawab terhadap solusi.
3. Berikan Feedback yang Spesifik
Feedback merupakan bagian penting dalam coaching. Namun, feedback akan lebih bermanfaat jika berfokus pada perilaku atau hasil yang dapat diperbaiki. Daripada mengatakan “Kinerjamu kurang baik,” lebih efektif menjelaskan bagian yang perlu diperbaiki dan dampaknya terhadap pekerjaan.
Feedback yang spesifik membuat karyawan lebih mudah memahami apa yang harus dipertahankan dan apa yang perlu dikembangkan.
4. Hubungkan Pengembangan dengan Tujuan Bisnis
Coaching sebaiknya tidak berhenti pada pengembangan individu. Kemampuan yang dikembangkan perlu dikaitkan dengan kebutuhan pekerjaan dan tujuan organisasi. Misalnya, peningkatan kemampuan komunikasi dapat diarahkan untuk memperbaiki pelayanan pelanggan, meningkatkan efektivitas presentasi, atau mendukung proses penjualan.
Dengan demikian, coaching memiliki hubungan yang lebih jelas dengan hasil yang ingin dicapai perusahaan.
5. Lakukan Follow-Up dan Ukur Perkembangannya
Coaching membutuhkan konsistensi. Setelah sesi coaching, tentukan tindakan yang akan dilakukan dan lakukan follow-up untuk melihat perkembangannya. Evaluasi dapat dilakukan dengan melihat perubahan perilaku, pencapaian target, kualitas pekerjaan, maupun indikator lain yang relevan. Dengan adanya follow-up, coaching tidak berhenti sebagai percakapan, tetapi menjadi proses pengembangan yang dapat diamati hasilnya.
Keterampilan coaching bukan hanya tentang kemampuan memberikan nasihat. Seorang coach perlu mampu mendengarkan, mengajukan pertanyaan, memberikan feedback, dan menghubungkan pengembangan individu dengan kebutuhan bisnis. Ketika keterampilan tersebut dibangun secara konsisten, coaching dapat menjadi salah satu cara untuk membantu karyawan berkembang sekaligus mendukung pencapaian tujuan organisasi.
Sumber: Wada, H.How Coaching Skills Drive Performance, Retention, and Commercial Results.. Diakses pada 29 September 2026.https://trainingmag.com/how-coaching-skills-drive-performance-retention-and-commercial-results//ongkyhojanto.com/ atau untuk menanyakan mengenai Training Motivation Mastery atau Training Public Speaking silahkan hubungi Ms. Fujji 0812-7194-0909.
Best Regards,
Admin – Fujji Kurnia Suci