Pages Menu
Categories Menu

Posted by on Jun 12, 2019 in Articles | 0 comments

Edukasi Kunci Menjadi Kaya

Dr. Suryamin, M.Sc, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) mengatakan “Ketimpangan kian melebar, tingkat kesejahteraan penduduk miskin kian tertinggal, penduduk kaya semakin kaya” hal ini disampaikan saat pertemuan dengan para pemimpin media masa rabu (16 april 2014) seperti di kutip dari www.bisnis.com,.

Deputi Bidang Neraca da Analisa Statistik BPS, Dr. Suhariyanto yang mendampingi Suryamin, dalam diskusi itu menjelaskan angka ketimpangan sosial ekonomi Indonesia saat ini tercermin secara nyata dalam gini ratio Indonesia yang tidak membaik sejak 2011 silam, yang berada di level 0,41.

Rasio gini berada di angka 0 hingga 1, yang dalam pengertian awam mencerminkan seberapa besar porsi orang kaya menikmati kue ekonomi nasional. Semakin besar gini rasio, semakin besar tingkat ketimpangan.

Gini rasio hingga 0,3 dianggap masih aman, tetapi 0,4 – 0,6 sudah dianggap lampu kuning, sedangkan lebih dari 0,6 adalah rasio yang berbahaya, yang menunjukkan ketimpangan sosial ekonomi tak lagi bisa ditoleransi. “Saat ini gini rasio kita sudah lampu kuning,” ujar Suhariyanto.

Kondisi gini rasio yang masih relatif “hijau” masih terjadi hingga tahun 2010, di mana posisinya masih di angka 0,38. Di era Orde Baru, gini rasio berkisar 0,31-0,38.

Kelompok kaya lebih mendapatkan manfaat dari pertumbuhan ekonomi tersebut. Pada 2008, 40% penduduk di kelompok pendapatan terendah masih menikmati PDB antara 21%-23%. Namun porsi itu anjlok menjadi hanya 16% pada 2012. Sebaliknya, 20% penduduk terkaya, yang pada 2008 sudah menikmati  40% produk domestik bruto atau kue ekonomi nasional, melonjak menjadi penikmat 49% kue ekonomi nasional pada 2012.

Kesimpulannya, “Kenaikan pendapatan penduduk yang kaya melonjak signifikan, sedangkan penduduk miskin meski pendapatannya naik tetapi tidak besar,” kata Dr. Suhariyanto

Edukasi, adalah salah satu kunci  untuk menjebatani hal ini. Pengetahuan masyarakat Indonesia dalam keuangan masih rendah. Survei literasi internasional yang pernah dilakukan PT Visa Worldwide Indonesia (VISA) di 28 negara menempatkan Indonesia di peringkat bawah dengan skor 21,7.

“Melek keuangan tetap menjadi tujuan yang sangat penting bagi Visa. Masih ada banyak sekali upaya yang harus dilakukan untuk mewujudkan Indonesia yang melek keuangan,” ucap Presiden Direktur Visa Ellyana Fuad, di Jakarta, Selasa, 22 Oktober 2013.

Menurut Ellyana, posisi Indonesia hanya setingkat lebih baik dari Pakistan. Survei ini juga menemukan bahwa kurang lebih 1 dari 3 responden di Indonesia tidak memiliki anggaran pribadi untuk mengontrol pemasukan dan pengeluaran mereka.

Akses informasi yang masih kuranglah menurut saya sebagai salah satu penyebab jurangan kesenjangan pendapatan ini, walaupun ada banyak aspek yang lain juga.

Oleh karena itu, sebagai Motivator Keuangan saya membagikan banyak informasi mengenai strategi pengaturan keuangan, strategi menaikan profit dalam bisnis, strategi investasi di Porperty serta reksadana dalam sebuah seminar tanggal 10 mei 2014. Motivasi diri anda untuk dapatkan ilmu tersebut dengan cara Sms ke 021 3667 5353 (ketik Uang_nama_email).

Dan semoga informasi dan strategi yang dibahas dapat menjadi solusi menuju Indonesia yang lebih sejahtera.

 

Demikian dari saya Ongky Hojanto

Pakar Public Speaking Indonesia versi Koran Kontan

Penulis buku best seller Public Speaking Mastery

Mau tingkatkan kemampuan public speaking anda ? Klik www.publicspeakingacademy.co.id

Dan anda bisa konsultasi workshop public speaking ke :

Ms Eli 08113440909 /Ms Tya 08113490909

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *